Tuesday 28 April 2015

Makalah Ke Arah Pemikiran Filsafat

BAB  I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Filsafat  dimulai  dari  rasa  ingin  tahu  Kepastian dimulai dengan  rasa ragu-ragu, dan filsafat dimulai dari keduanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini. Demikian juga filsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang berapa jauh sebenarnya kebenaran yang di cari telah kita jangkau (Suriasumantri, 2007).
Filsafat, sebagai mana dengan ilmu lainya dapat dipelajari dengan berbagai cara . Ada dua cara mempelajari filsafat yaitu: secara historis dan secara sistematis Mempelajari filsafat  secara historis artinya mempelajari perkembangan filsafat sejak awal sampai sekarang, sedangkan mempelajari filsafat secara sistematis artinya, mempelajari isinya yaitu bidang bidang pembahasan yang diatur dalam bidang bidang tertentu dalam filsafat tersebut.
Ada keunikan dalam mempelajari filsafat. Setiap bidang filsafat tidak merupakan bidang yang bidang yang deskrit dalam arti yang terpisah secara mutlak melainkan setiap bidang bersifat korelatif yang memiliki titik singgung dengan bidang bidang lainya.
Filsafat menyerupai lingkaran geometri. Titik awal pikiran filsafat seperti salah satu titik yang tak terhingga, tiap titik dapat digunakan sebagai titik awal dan tidak satupun sungguh – sungguh memuaskan sebagai permulaan, karena tiap tiap titik sebagai titik sebagai titik lingkaran, tergantung pada semua titik lingkaran lainya, seperti halnya juga titik tergantung pada titik titik lainya, dan juga titik titk lingkaran tergantung pada titik lainya. Demikian juga tiap masalah filsafat tertangtung pada masalah filsafat lainya.
Filsafat dapat dijadikan landasan berfikir untuk mengambil keputusan dalam pekerjaan , demikian juga filsafat dapat dijadikan landasan berpikir dalam pemilihan materi pembelajaran, penyusunan program dan pencarian method dalam pembelajaran.

1.2. Rumusan Masalah
1.       Bagaimanakah Pengertian Pokok Tentang Filsafat dan Cabang- cabang filsafat ?
2.       Apa Pengertian Pengetahuan ?
3.       Bagaimanakah Asumsi Dasar dan Ciri-ciri Ilmu ?
4.       Bagaimana  Ilmu dan Filsafat
1.3. Tujuan
5.       Mengetahui Pengertian Pokok Tentang Filsafat dan Cabang- cabang filsafat
6.       Mengetahui Pengertian Pengetahuan
7.       Mengetahui Apa itu Asumsi Dasar dan Ciri-ciri Ilmu
8.       Mengetahui apa itu Ilmu dan Filsafat


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pokok Tentang Filsafat
Filsafat dalam Bahasa Inggris yaitu philosophy, adapun istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani yaitu philosophia, yang terdiri atas dua kata yaitu philos (cinta) atauphilia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, intelegensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Orangnya disebut filosof yang dalam bahasa Arab disebutfailasuf.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat memiliki arti yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.
Beberapa pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof adalah :
·         Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
·         Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.
·         Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
·         Penyelidikan kritis atas pengandaianpengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
·         Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.

2.2.     Cabang- cabang filsafat       
1.             LOGIKA. Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari aturan atau patokan yang harus ditaati agar orang dapat berfikir tepat,teliti,dan teratur untuk mencapai kebenaran.
2.             EPISTEMOLOGI. Epistemologi salah satu cabang filsafat yang menyoroti dari sudut sebab pertama,gejala pengetahuan dan kesadaran manusia
3.             KRITIK ILMU. Kritik ilmu yang disebut filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang menyibukkan diri dengan teori pembagian ilmu,metode yang digunakan dalam ilmu,tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan yang tidak termasuk bidang ilmu pengetahuan melainkan merupakan tugas filsafat.
4.             ONTOLOGI. Ontologi sering disebut metafisika umum atau filsafat pertama adalah filsafat tentang seluruh kenyataan atau segala sesuatu sejauh itu “ada”.
5.             TEOLOGI METAFISIK. Teori metafisik membicarakan filsafat ke-Tuhan-an atau logos(ilmu)tentang Theos (Tuhan)menurut ajaran dan kepercayaan.
6.             KOSMOLOGI. Kosmologi membicarakan kosmos atau alam semesta hal ihwal dan evolusinya.Filsuf yang berperan antara lain Pitagoras,Plato dan Ptolemeus.
7.             ANTROPOLOGI. Antropologi berkaitan dengan Filsafat manusia mempelajari manusia sebagai manusia,menguraikan apa atau siapa manusia menurut adanya yang terdalam,sejauh bisa diketahui mulai dengan akal budinya yang murni.
8.             ETIKA. Etika atau Filsafat moral adalah bidang Filsafat yang mempelajari tindakan manusia.Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia,melainkan bagaimana manusia seharusnya bertindak dalam kaitannya dengan tujuan hidupnya.
9.             ESTETIKA. Estetika sering juga disebut filsafat keindahan(seni),adalah cabang filsafat yang berbicara tentang pengalaman,bentuknya,hakikat keindahan yang bersifat jasmani dan rohani.
10.         SEJARAH FILSAFAT. Sejarah Filsafat adalah cabang filsafat yang mengajarkan jawaban para pemikir besar,tema yang dianggap paling penting dalam periode tertentu,dan aliran besar yang menguasai pemikiran selama suatu zaman atau suatu bagian dunia tertentu

2.3. Pengertian Pengetahuan
Mendefinisikan pengetahuan merupakan kajian panjang sehingga terjadi pergulatan sejarah pemikiran filsafati dalam menemukan pengertian pengetahuan. Hal ini wajar karena “keistimewaan” filsafat adalah perselisihan, pergumulan pemikirannya itu berlangsung terus selamanya. Suatu produk pemikiran filsafat selalu ada yang menguatkan, mengkritik, melemahkan bahkan akan ada yang merobohkan pemikiran itu. Kelakpun akan dijumpai yang satu menegaskan sedang yang lain mengingkari. Begitulah seterusnya akan selalu berada dalam bingkai dialektika.
Sedangkan Ilmu merupakan pengetahuan yang terorganisasi dan diperoleh melalui proses keilmuan. Sedangkan proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematsi tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini biasanya atau pada umunya berupa metode ilmiyah. Dari proses metode ilmiah itu melahirkan “science”. Science atau tepatnya Ilmu pengetahuan memilki arti spesifik bila digandengkan dengan ilmu pengetahuan yaitu sebagai kajian keilmuan yang tersistematis sehingga menjadi teori ilmiah-obyektif ( dapat dibuktikan secara empiris ) dan prediktif ( menduga hasil empiris yang bisa diperiksa sehingga bisa jadi hasilnya bersesuaian atau bertentangan dengan realita empiris).
Pengetahuan dalam pandangan Rasionalis bersumber dari “Idea”. Tokoh awalnya adalah Plato (427-347). Menurutnya alam idea itu kekal, tidak berubah-ubah. Manusia semenjak lahir sudah membawa idea bawaan sehingga tinggal mengingatnya kembali untuk menganalisa sesuatu itu. Istilah yang digunakan Rene Descartes (1596-1650) sebagai tokoh rasionalis dengan nama “innete idea”. Penganut rasionalis tidak percaya dengan inderawi karena inderawi memiliki keterbatasan dan dapat berubah-ubah. Sesuatu yang tidak mengalami perubahan itulah yang dapat dijadikan pedoman sebagai sumber ilmu pengetahuan. Aristatoles dan para penganut Empirisme-Realisme menyanggah yang disampaikan oleh kaum Rasionalis. Mereka berdalih bahwa ide-ide bawaan itu tidak ada. Hukum-hukum dan pemahaman yang universal bukan hasil bawaan tetapi diperoleh melalui proses panjang pengamatan empiric manusia. Aristatoles berkesimpulan bahwa ide-ide dan hukum yang universal itu muncul dirumuskan akal melalui proses pengamatan dan pengalaman inderawi.

2.4. Asumsi Dasar
Idealnya ilmu pengetahuan bebas asumsi. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan sebenarnya berasal dari kritik terhadap filsafat idealisme yang selalu terjebak dalam asumsi. Ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi-asumsi yang tak berdasar dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni Induksi. Berasal dari pengamatan yang jelas tanpa terjebak dengan teori-teori lalu yang bisa salah. Semua pernyataan harus dibuktikan secara empiris.
Sayangnya hal semacam ini sangat tidak mungkin. Ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi di dalamnya. Dalam sebuah percobaan seorang ilmuan tidak bisa tidak terperangkap dalam sebuah kondisi sosio-historis-kultural. Misal, dalam sebuah percobaan beberapa orang ilmuan mencoba mengetahui apa saja yang mempengaruhi titik didih sebuah benda. Dia kemudian meletakkan air di sebuah teko besi dan merebus benda itu dengan api. Kemudian berturut-turut mereka memakai teko perunggu, teko emas,  teko perak. Ini untuk menentukan apakah wadah mempengaruhi titik didih air. Salah seorang filsuf lewat sambil mengorek-orek hidungnya. “Eh, kenapa kalian merebus benda itu?”. Ilmuan-ilmuan itu kemudian menjawab “Eh, kami sedang mengadakan percobaan dengan merebus benda itu?” Sang filsuf kemudian bertanya “Tidakkah kalian pikir bahwa warna juga mempengaruhi, bagaimana kalau kalian coba wadah dengan berbagai warna”. Para ilmuan tertawa “Mana mungkin warna mempengaruhi titik didih”. Ini menunjukkan bahwa sebelum melakukan penelitian ilmuan sudah memiliki asumsi. Asumsi itu adalah bahwa beda jenis wadah akan mempengaruhi titik didih api, bukan warna. Mereka juga tidak memilih penelitian dalam berbagai bentuk wadah. Ini artinya sebelum penelitian dilakukan, mereka sudah memiliki asumsi sehingga akan berpengaruh dengan penelitian.
Dari cerita di atas, asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berfikir karena dianggap benar. Sedangkan pengertian asumsi dalam filsafat ilmu ini merupakan anggapan/ andaian dasar tentang realitas suatu objek yang menjadi pusat penelaahan atau pondasi bagi penyusunan pengetahuan ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan ilmu. Tanpa asumsi anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kacamata apa. Ernan McMullin seorang Professor Emeritus filsafat di Universitas of Notre Dame, USA (2002) pun menyatakan tentang pentingnya keberadaan asumsi dalam suatu ilmu pengetahuan, ia mengatakan bahwa hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption) keberadaan suatu objek sebelum melakukan penelitian.

2.5.  Ciri-ciri Ilmu
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
1.      Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur, dan dibuktikan. Berbeda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang gaib dan penghayatan serta pengalaman pribadi.
2.      Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
3.      Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis
4.      Di pihak lain, yang seringkali berkaitan dengan konsep ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.
5.      Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah. Sebaliknya, ilmu menuntut pengamatan dan berpikir metodis, tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting adalah terminologi ilmiah. Yang disebut belakangan ini mencoba konsep-konsep ilmu.
6.      Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.
·         Teori skolastik mengenai ilmu membuat pembedaan antara objek material dan objek formal.
·         Objek material adalah objek konkret yang disimak oleh ilmu
·         Objek formal adalah aspek khusus atau sudut pandang terhadap objek material.
·         Yang mencirikan setiap ilmu adalah objek formalnya. Sementara objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.
·         Pembagian objek studi mengantar ke spesialisasi ilmu yang terus bertambah.

2.6. Ilmu dan Filsafat
            Ilmu merupakan pengetahuan yang digeluti sejak di bangku sekolah sampai pada pendidikan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri; Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu?, Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar?
             Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi sudut pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya, misalnya Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Selain itu membongkar tempat berpijak secara fundamental.
1.     Persamaan filsafat dan ilmu
·         Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai ke akar-akarnya.
·         Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya.
·         Keduanya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
·         Keduanya mempunyai metode dan system.
·         Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.

 2.     Perbedaan Filsafat dan Ilmu :
·         Objekmaterial (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek material ilmu (pengetahuan ilmiah) bersifat khusus dan Empirik.
·         Artinya: ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku, filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin ilmu.
·         Objek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non-fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar.
·         Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, objek formal ilmu itu bersifat teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.
·         Filsafat dilaksanakan dalam suatu suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error.
·         Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedang kegunaan filsafat timbul dari nilainya.
·         Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
·         Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar (primary cause) sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder (secondary cause).
3.     Tujuan Filsafat Ilmu :
1.      Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2.      Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3.      Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
4.      Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5.      Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuanantara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakniepiscmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah.
Cabang-cabang filsafat ada : logika,epistemologi, kritik ilmu,ontologi,teologi metafisik,kosmologi,antropologi,etika,estetika,sejarahfilsafat.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.


DAFTAR PUSTAKA





0 comments:

Post a Comment